UMKM Praktis: Cara Mengatur Keuangan Usaha Tanpa Rumit

Produk bagus belum tentu membuat UMKM di Sukadana menghasilkan keuntungan. Salah satu penyebabnya adalah pencatatan keuangan yang masih bercampur dengan kebutuhan rumah tangga. Uang hasil penjualan masuk ke rekening pribadi, lalu dipakai belanja tanpa batas yang jelas. Pemilik usaha akhirnya sulit mengetahui apakah bisnis benar-benar untung.
Masalah ini saya lihat berulang sejak mulai menulis tentang keuangan pada 2019. Solusinya tidak harus memakai aplikasi mahal atau istilah rumit. UMKM bisa memulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari, sebntar saja tetapi konsisten.

Pisahkan uang usaha dan uang pribadi
Langkah pertama adalah menyediakan tempat khusus untuk uang usaha. Rekening terpisah memang membantu, tetapi wadah sederhana seperti dompet kas atau kotak uang juga cukup ketika skala usaha masih kecil. Yang penting, uang penjualan tidak langsung dipakai untuk kebutuhan rumah.
Tentukan jumlah uang yang boleh diambil pemilik setiap minggu atau setiap bulan. Anggap jumlah tersebut sebagai penghasilan pemilik, bukan mengambil uang sesuka hati dari kas. Cara ini membuat kondisi usaha lebih mudah dibaca dan membantu mengurangi pengeluaran yang tidak terasa.
Catat setiap pemasukan berdasarkan sumbernya, diantaranya penjualan makanan, jasa pengantaran, pesanan melalui media sosial, atau pembayaran pelanggan lama. Pengeluaran juga perlu ditulis, termasuk pembelian bahan, ongkos kirim, kemasan, listrik, dan biaya promosi.
Pencatatan tidak perlu panjang. Tulis tanggal, keterangan, uang masuk, uang keluar, dan saldo. Lakukan pada hari yang sama agar tidak mengandalkan ingatan. Setelah satu minggu, periksa apakah ada pengeluaran kecil yang terlalu sering muncul. Jangan menunda mencatatnnya sampai akhir bulan Cerita dari sudut lain di umkm jangka panjang.
Hitung harga dan keuntungan dengan angka nyata
Menentukan harga hanya dengan melihat harga pesaing menjadi kesalahan umum UMKM. Padahal, biaya setiap usaha berbeda. Harga jual perlu memperhitungkan bahan, tenaga, kemasan, transportasi, biaya tempat, serta kerusakan atau produk yang tidak terjual.
Sebagai contoh, satu porsi makanan memakai bahan senilai Rp12.000. Tambahkan kemasan Rp2.000 dan biaya operasional Rp3.000. Modal per porsi menjadi Rp17.000. Jika dijual Rp22.000, sisa kotor sebelum biaya lain adalah Rp5.000. Angka ini membantu pemilik menilai apakah harga tersebut cukup untuk menutup biaya dan mengembangkan usaha.
Buat pemeriksaan keuangan mingguan dengan tiga pertanyaan: berapa total penjualan, berapa total pengeluaran, dan berapa uang yang tersisa setelah semua kewajiban dibayar? Jangan menyamakan saldo kas dengan keuntungan. Sebagian uang mungkin masih diperlukan untuk membeli stok berikutnya atau membayar tagihan yang belum jatuh tempo.
Untuk memahami pengelolaan keuangan dan perlindungan konsumen, pemilik UMKM dapat membaca informasi edukasi dari Otoritas Jasa Keuangan.

Siapkan dana operasional dan kendalikan stok
UMKM membutuhkan dana cadangan untuk menghadapi penjualan yang menurun, peralatan rusak, atau kenaikan harga bahan. Sisihkan sebagian keuntungan secara berkala, meskipun jumlahnya kecil. Target awal bisa berupa biaya operasional selama dua minggu, kemudian ditingkatkan secara bertahap.
Stok juga perlu dikendalikan. Terlalu banyak membeli bahan membuat uang tertahan dan meningkatkan resiko kerusakan. Sebaliknya, stok yang terlalu sedikit dapat membuat pelanggan kecewa. Catat barang yang paling cepat terjual, lalu sesuaikan jumlah pembelian dengan pola permintaan.
Promosi sebaiknya dinilai dari hasilnya, bukan hanya dari jumlah orang yang melihat. Jika mengeluarkan Rp100.000 untuk promosi dan memperoleh beberapa pesanan dengan keuntungan lebih besar, kegiatan tersebut layak diuji kembali. Jika tidak menghasilkan penjualan, ubah cara, waktu, atau sasaran promosinya Ringkasannya pernah saya buat di umkm.
UMKM praktis bukan berarti mengabaikan perencanaan. Praktis berarti memakai cara yang mudah dilakukan dan konsisten. Mulai dari satu catatan harian, satu kas usaha, dan satu jadwal pemeriksaan mingguan. Dari kebiasaan kecil itu, pemilik usaha di Sukadana dapat melihat kondisi bisnis dengan lebih jelas dan mengambil keputusan berdasarkan angka, bukan perkiraan. Utamakan pencatatan, lalu mengembaliin kebiasaan itu setiap hari.
Lihat juga: Umkm pemula
Selengkapnya di: sumber resmi